Pemesanan Buku "12 Weeks To Get Married"


Buku "12 Weeks To Get Married" (berbahasa Indonesia)

Penulis : Tri Wahyu Nugroho, S.T. / Maswahyu ST (Spesialis Ta'aruf) - Founder RumahTaaruf.com
Penerbit : QultumMedia
Jumlah Halaman : xii + 146
Tahun Terbit : 2014 

Buku ini diawali dengan pemaparan beberapa kisah nyata mediasi ta'aruf dengan berbagai macam problematika yang dialami oleh Maswahyu selaku mediator ta'aruf. Salah satu kisahnya adalah proses ta'aruf salah satu pasangan yang berhasil merealisasikan panduan ikhtiar ta'aruf "12 Pekan Meraih Sakinah", dari pengajuan ta'aruf tanggal 4 Maret 2014 hingga akad nikahnya pada tanggal 24 Mei 2014. Tahapan proses ta'aruf dijelaskan secara detail di buku ini dengan target proses ta'aruf hingga hari pernikahan yang bisa dijalani selama 12 pekan saja, apabila Allah menghendaki.

Buku ini menjelaskan apa saja persiapan yang perlu dilakukan sebelum taa'aruf, mulai dari tahap persiapan diri, kiat-kiat pengondisian orang tua, mempersiapkan CV/biodata ta'aruf, mencari mediator ta'aruf, dan observasi sebelum ta'aruf. Dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan ta'aruf, dimulai dari teknis pengajuan ta'aruf, sesi ta'aruf online, sesi ta'aruf offline, kiat-kiat menyikapi penolakan dan kegagalan ta'aruf, dan kiat-kiat berinteraksi saat ta'aruf berlanjut hingga hari pernikahan.


Buku ini cocok bagi anda yang masih single dan ingin mengetahui lebih jauh aktivitas praktik ta'aruf dalam ikhtiar pencarian jodoh anda. Selain itu, buku ini dapat juga menjadi panduan bagi anda yang telah menikah dan berniat ingin membantu rekan-rekan yang masih single dalam pencarian jodohnya. Panduan dan kiat-kiat yang sebagian besar ditulis berdasarkan pengalaman penulis dalam memediatori 300an ta'aruf online dan 40an ta'aruf offline selama 5 tahunan beraktivitas di media perta'arufan ini diharapkan bisa melengkapi buku pranikah lain yang mungkin belum banyak yang menyentuh ke ranah praktiknya.

Testimoni dari pembaca 1 : 



 Testimoni dari pembaca 2 :

  
Testimoni dari pembaca 3 :


Tertarik untuk memiliki buku tersebut?

Rekan-rekan bisa mengisi format pemesanan berikut ini :

Nama Lengkap : 
Nomer HP/WA Aktif : 
Jumlah Pemesanan Buku : 
Alamat Lengkap Pengiriman (cantumkan kode posnya untuk memudahkan perkiraan ongkos kirim) : 

Silakan disampaikan ke nomer Whatsapp : 087 884 4000 65 

Harga buku (di luar ongkos kirim)

- Jumlah Pemesanan 1 buku = Rp. 40.000,00 
- Jumlah Pemesanan 2 buku = Rp. 75.000,00
- Jumlah Pemesanan 3 buku = Rp. 105.000,00
- Jumlah pemesanan 4 buku ke atas = Rp. 35.000,00 per buku.
*berat 1 buku sekitar 150 gram.

Bisa didapatkan juga di Google Play : https://play.google.com/store/books/details/Maswahyu_ST_12_Weeks_to_Get_Married?id=noKcBQAAQBAJ&hl

Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. 

Etika Dalam Menolak Taaruf


Ikhtiar taaruf tidak selalu berujung pada pernikahan. Berdasarkan pengalaman memfasilitasi taaruf, hanya sekitar 20 persen pasangan yang bertaaruf lanjut prosesnya hingga pernikahan. Sebagian besar proses tidak berlanjut, entah itu karena pihak laki-laki yang menolak, pihak perempuan yang menolak, ataupun penolakan dari orang tua. Berikut ini tiga hal yang bisa anda jadikan masukan sebelum menyampaikan penolakan taaruf.

1. Boleh menolak apabila merasa tidak cocok

Pasangan anda nanti adalah partner yang insya Allah akan mendampingi anda seumur hidup, sehingga anda perlu mencari pasangan yang cocok dan membuat anda merasa nyaman saat hidup bersamanya. Faktor agama dan akhlak yang baik sudah pasti menjadi kriteria utama anda. Namun, tidak ada salahnya apabila anda menetapkan kriteria tambahan di samping pertimbangan faktor agama tersebut, entah itu pertimbangan fisik, usia, pendidikan, pekerjaan, domisili, dan pertimbangan duniawi lainnya.

Mengesampingkan pertimbangan agama dan lebih mengutamakan faktor duniawi tentunya bukan sikap yang baik. Sebaliknya, hanya memperhatikan sisi agama saja tanpa mempedulikan sisi duniawi juga merupakan sikap yang kurang tepat. Contoh ekstrimnya seperti ini : Anda yang seorang perempuan menerima tawaran taaruf dari dua orang laki-laki yang sama-sama baik agamanya dan bagus akhlaknya, yang satu pendidikannya S1, dan yang satu lagi tidak sampai tamat TK, sosok mana yang akan anda pilih? Atau anda yang seorang laki-laki menerima tawaran taaruf dari seorang perempuan yang baik agamanya, tapi dia seorang nenek-nenek berusia 70 tahun, apakah anda mau menjadi suaminya? Mungkin saja bagi anda tidak masalah, akan tetapi keluarga anda apakah bisa menerimanya?

Dengan demikian, pertimbangan sisi duniawi tidak bisa dikesampingkan dalam pemilihan calon pasangan, selain kriteria agama yang menjadi prioritas utama. Nabi Muhammad dan beberapa sahabatnya yang tak diragukan lagi keshalihannya pun dikisahkan pernah menolak, dan pernah juga ditolak. Di waktu yang lain, Nabi Muhammad pernah menganjurkan sahabatnya yang akan menikah untuk melakukan nadzhor, yaitu melihat calon pasangan sebelum melamarnya dalam rangka menemukan hal-hal yang menarik hati sehingga semakin yakin untuk menikahinya. Oleh karena itu, apabila anda tidak menemukan kecocokan setelah bertaaruf dan bertemu dengan calon pasangan, anda boleh menolak dan memutuskan untuk tidak melanjutkan proses taaruf. 

2. Alasan penolakan tidak perlu disampaikan

Untuk menghindari perasaan sakit hati pihak yang ditolak, alasan penolakan sebaiknya tidak perlu disampaikan. Berdasarkan pengalaman memfasilitasi taaruf, sebagian besar penolakan dikarenakan sisi duniawi yang melekat pada diri seseorang, sehingga akan menyakitkan hati apabila si penolak menjelaskan alasan penolakannya. 

Alasan penolakan tersebut antara lain : paras wajah yang kurang cocok, postur tubuh yang pendek, berat badan yang berlebihan, rentang usia yang kejauhan, tingkat pendidikan yang tidak setara, pekerjaan yang kurang layak, status pernikahan sebelumnya (duda/janda), dan alasan-alasan lainnya. 

Bisa dibayangkan bila alasan-alasan tersebut disampaikan, tentunya sisi mudharatnya malah akan lebih besar dibanding sisi manfaatnya. Hubungan silaturahim pun bisa menjadi renggang karena pihak yang ditolak belum siap menerima alasan penolakan yang disampaikan. Jadi, saat menolak taaruf sampaikan intinya saja bahwa anda tidak berkenan melanjutkan proses taaruf, apapun alasannya tidak perlu disebutkan.
  
3. Memilih kalimat penolakan yang baik

Penolakan taaruf sebaiknya disampaikan dengan kalimat singkat, padat, dan jelas, yang intinya anda tidak berkenan melanjutkan proses taaruf. Tidak perlu dibumbui kalimat pujian ke si tertolak, misalnya dengan kalimat : "Mas adalah seorang yang shalih, insya Allah mas akan mendapatkan calon pasangan lain yang shalihah juga", atau "Adik adalah seorang yang shalihah, insya Allah adik akan dapat calon pasangan yang lebih baik dari saya". Hindarilah kalimat seperti itu, karena malah membuat si tertolak terbawa perasaan dan susah berpaling dari anda. 

Agar proses taaruf lebih terjaga, pengajuan taaruf dan penolakan taaruf sebaiknya disampaikan lewat pihak ketiga atau perantara, tidak disampaikan secara langsung. Pihak ketiga ini bisa dipilih dari saudara, sahabat dekat, atau rekan tepercaya lainnya. Insya Allah rasa malu saat mengajukan taaruf atau rasa kecewa saat menerima penolakan taaruf bisa diminimalkan karena difasilitasi lewat perantara pihak ketiga. Perantara taaruf bisa menyampaikan penolakan taaruf dengan kalimat seperti ini : "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, setelah istikharah dan mempertimbangkan selama satu pekan ini, pihak laki-laki/pihak perempuan menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa melanjutkan proses taaruf. Insya Allah ini yang terbaik menurut Allah SWT."

Yang terbaik menurut anda, bisa jadi bukanlah yang terbaik menurut Allah SWT. Tidak perlu memaksakan harus berjodoh dengan seseorang, karena Allah lah yang lebih tahu jodoh mana yang sesuai untuk anda. Insya Allah apabila memang anda berjodoh dengan seseorang, proses taaruf akan dijalani dengan lancar di sepanjang prosesnya, tanpa adanya tolak menolak. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan.

Wallahua'lam bishshawwab.

Maswahyu ST (Spesialis Taaruf)
Admin www.RumahTaaruf.com

Mengenalkan Metode Taaruf ke Orang Tua


Istilah taaruf mulai dikenal dalam beberapa tahun terakhir ini, berbeda dengan jaman orang tua kita dulu yang hanya mengenal istilah pacaran atau perjodohan dalam ikhtiar menuju pernikahan. Minimnya pengetahuan mengenai taaruf menyebabkan banyak orang tua merasa khawatir bahkan sampai melarang saat anaknya berniat menjalani taaruf. Berikut ini tiga langkah yang bisa anda jalani untuk mengenalkan metode taaruf ke orang tua yang masih awam seputar istilah taaruf.

1. Taaruf Artinya Berkenalan

Manfaatkan waktu santai dengan keluarga, jelaskan ke orang tua bahwa makna taaruf adalah berkenalan. Berkenalan dalam artian yang luas, bisa diartikan berkenalan dengan teman biasa atau berkenalan dalam rangka mencari calon pasangan. Dalam rangka mencari calon pasangan, masyarakat terbiasa menggunakan istilah "pacaran" untuk proses berkenalan yang tidak syari, dan menggunakan istilah "taaruf" untuk proses berkenalan yang syari.

Sampaikan contoh sederhana yang membedakan antara pacaran dan taaruf, bahwa dalam menjalani taaruf perlu ada orang ketiga yang mendampingi di sepanjang prosesnya. Tidak ada jalan berduaan, makan berduaan, nonton berduaan, naik motor berduaan, naik mobil berduaan, dan aktivitas berduaan lainnya. Apabila kedua pihak perlu bertemu karena ada hal yang perlu didiskusikan secara langsung maka pertemuan bisa didampingi pihak ketiga, baik itu orang tua, saudara, atau rekan tepercaya lainnya, jadi tidak berduaan saja. Komunikasi selama masa taaruf pun perlu dijaga, tidak ada kalimat sayang-sayangan dan ungkapan mesra yang disampaikan di antara keduanya.

2. Referensi Tambahan Seputar Taaruf

Beberapa orang tua kadang merasa gengsi apabila "diceramahi" oleh anaknya, khususnya dalam hal pengetahuan agama. Dari segi usia yang jauh lebih tua, mereka merasa lebih faham segalanya dibanding si anak. Untuk mengatasi hal tersebut, pencerahan seputar taaruf bisa disampaikan oleh pihak ketiga melalu media yang digemari orang tua.

Apabila orang tua suka menonton Youtube, tunjukkan video Youtube ustadz-ustadz yang membahas tema seputar taaruf. Apabila orang tua gemar membaca, belikan buku-buku yang membahas seputar taaruf atau tunjukkan artikel-artikel di media online yang membahas seputar taaruf. Bisa juga dengan mengajak orang tua mengikuti seminar pranikah atau kajian pranikah bertema taaruf untuk menambah wawasan seputar taaruf.

3. Tahap Pelaksanaan Taaruf

Salah satu hal yang ditakutkan para orang tua dalam proses taaruf adalah adanya kesan bahwa taaruf itu seperti "membeli kucing dalam karung". Mereka beranggapan bahwa taaruf dijalani secara kilat dan langsung menikah tanpa penelusuran lebih jauh seputar calon pasangan. Anggapan ini tentu saja keliru, karena Nabi Muhammad justru menganjurkan "nadzhor" bagi sahabatnya yang akan menikah, yaitu melihat calon pasangan yang akan dinikahi/menikahi secara langsung, meneliti lebih jauh hal-hal yang bisa menambah keyakinan hati untuk tetap melanjutkan proses taaruf atau tidak. Penelusuran lebih lanjut ini tidak hanya dilakukan ke si calon pasangan saja, tetapi juga ke pihak terdekat calon pasangan yang biasa berinteraksi dengannya. Dengan demikian informasi seputar pribadi dan keseharian si calon pasangan akan lebih banyak didapat, dan bisa dijadikan pertimbangan lanjut tidaknya proses taaruf ke tahap berikutnya.

Satu minggu pertama masa taaruf bisa digunakan untuk lebih mengenal si calon lewat keluarganya, apakah itu melalui bapaknya, ibunya, kakaknya, adiknya, dan anggota keluarganya yang lain. Minggu kedua cari informasi ke tetangganya, baik itu tetangga depan rumahnya, tetangga samping kanan rumahnya, samping kiri rumahnya, ataupun ke tetangga RT sebelah yang mengenal dirinya. Minggu ketiga cari informasi ke rekan kerjanya, baik itu atasannya langsung, rekan satu divisi, bawahannya, dan rekan kerja lainnya. Minggu keempat cari informasi ke ke rekan organisasi, komunitas, atau perkumpulan yang diikutinya. Tes medis dan tes psikologis bisa juga dijalani untuk mengetahui kondisi kesehatan dan kondisi psikis kedua pihak. Untuk lebih meyakinkan hati, orang tua pun bisa mengutus "mata-mata" untuk mengawasi aktivitas harian si calon dari jarak jauh, dimulai dari saat si calon keluar rumah hingga kembali lagi ke rumahnya.

Yang perlu ditekankan, ikhtiar taaruf dengan seseorang tidak harus selalu berujung pada pernikahan. Apabila dari penelusuran di atas terdapat hal-hal yang mengganjal sehingga anda dan orang tua anda keberatan maka proses taaruf bisa dihentikan secara baik-baik, dan kedua pihak bisa ikhtiar mencari calon pasangan yang lainnya. Apabila hasil penelusuran di atas banyak hal positif yang didapat maka proses taaruf bisa dilanjutkan ke tahap yang lebih serius, yaitu taaruf antara kedua keluarga dan lamaran keluarga setelah kedua keluarga sama-sama cocok. Insya Allah bila kedua pihak memang berjodoh proses taaruf akan berjalan lancar seterusnya hingga terselenggaranya pernikahan. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan.

Wallahua'lam bishshawwab.

Salam,

Maswahyu ST (Spesialis Taaruf)
Admin RumahTaaruf.com
Website : www.maswahyu.com
Twitter & Instagram : @MaswahyuST